Alasnya memakai sebuah Ceper, Taledan, bundaran yang pada
pinggirnya dihiasi dengan Trikona atau plekir, diatasnya diisi
perlengkapannya berupa pelawa, porosan, tebu, kekiping, pisang
emas, sedangkan beras kuning, burat wangi,lenga wangi, masing-masing diatasi dengan celemik atau tangkih. Diatasnya diisi uras sari, bunga, rampe, boreh miyik dan uang sesari.
Pada dasarnya hampir sama dengan Canang Genten, hanya
Canang Sari lebih banyak perlengkapannya. Alas upakara berbentuk
bundaran atau Bulat malahan diberi hiasan Trikona, seperti Tamas
melambangkan Kebulatan pikiran atau Nemu Gelang (bahasa Bali),
juga melambangkan Asta Iswarya yaitu delapan Dewa Penguasa
penjuru mata angin, lambang Dewata Nawa Sanga yaitu sembilan
Dewa Penguasa Penjuru mata angin termasuk yang ditengah dan
juga lambang Windu atau kosmos, Brahmanda yaitu bentuk alam
semesta yang bulat ciptaan Ida Hyang Widhi Wasa. Tambahan
perlengkapan berupa Pisang emas, tebu dan kekiping disebut Raka-
raka melambangkan Widyadara Widyadari dan juga isi alam. Pisang
emas yang warnanya kekuning-kuningan melambangkan Dewa
Mahadewa sedangkan Tebu yang berfungsi sebagai isapan lambang
Dewa Brahma, Burat Wangi dan Lenga Wangi adalah lambang Dewa
Sambhu. Bila diperinci tiga unsur yang membentuk Burat Wangi dan
Lenga Wangi itu terdapat didalamnya melambangkan Dewa Siwa
sebagai Pamralina. Ketiga unsurinti itu adalah Menyan melambangkan
Hyang Siwa, Majagau melambangkan Hyang Sada Siwa dan Cendana
melambangkan Hyang Parama Siwa. Uang Sesari melambangkan
sarining Manah yaitu inti dari pikiran dan uang juga dapat berfungsi
sebagai penebus segala kekurangannya.
Penggunaannya agak khusus dan juga dapat melengkapi upakara
yang lainnya. Dapat dipersembahkan pada hari-hari tertentu, seperti
Keliwon, Purnama, Tilem dan hari-hari besar lainnya.