Madia atau menengah terdiri dari : Byakala,
Daksina, Peras, Ajuman, Prayascita, Pagedong-gedongan,
Sasayut Pangambyan dan Sasayut Pamahayu tuwuh serta
tataban seadanya (sorohan Tumpeng Pitu), sasayut Tulus Dadi dan Pulagembal
Mengenai tata pelaksanaan upacara
Apabila upakaranya madia, pelaksanaannya memohon tirtha
panglukatan pada sulinggih atau pada hari Tumpek wayang
dan tirta panglukatan di sungai, pancuran atau tempat
permandian dengan pembuangan airnya yang deras dan susunan
1. Orang yang hamil diantarkan ke tempat permandian
memakai tongkat bungbung (seruas bambu tanpa ruac
diikat dengan benang satu "tukel". Ujung benang dipegang
oleh suaminya.
2. Setelah sampai ditempat permandian, diawali menghaturkan
upakara persaksian berupa Pajatt dan Pabersthan untuk ibu
yang hamil
3. Ibu hamil disuruh mandi, lalu berganti pakaian lanjut
sembahyang dan diakhiri mohon panglukatan dengan tirta
yang telah dimohonkan sebelumnya.
4. Selesai malukat di permandian, kembali ke rumah memakai
tongkat bungbung tadi. Setibanya di rumah dilakukan
upacara mabyakala dan Maprayascita pada halaman rumah
Sanggah sesuai dengan kebiasaan, dilanjutkan Sembahyang
di Sanggah/Marajan Sesuai petunjuk pemimpin upacara.
5. Selesai sembahyang, ibu hamil ke kamar tidurnya majaya-
jaya serta ngayab/natab banten pagedongan. Banten
Pagedongan dibiarkan sampai lewat 3 hari, sedangkan yang
lain dapat diambil pada hari itu pula.
Ajuman,
Pulagembal,
Prayascita,
Daksina,
Peras,
Byakala,
Pagendong-gendongan,
Sesayut Pamahayu Tuwuh,
Sesayut Pengambyan,
Sorohan Dapetan Tumpeng 7,
Sesayut Tulus Dadi